Rabu, 03 April 2013

Manajemen Pendidikan


MANAJEMEN PADA ASPEK LINGKUNGAN MASYARAKAT
(Management By Environment/Community)


Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada dan terjadi di sekeliling proses pendidikan itu berlangsung yang terdiri dari manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati. Keempat kelompok benda-benda lingkungan itu ikut berperan dalam rangka usaha setiap siswa/mahasiswa mengembangkan dirinya. Tetapi manajemen pendidikan menaruh perhatiannya terutama kepada lingkungan yang berwujud manusia yaitu masyarakat.
Seperti diketahui bahwa tugas manajemen antara lain ialah mengintegrasikan sumber-sumber pendidikan dan memanfaatkannya seoptimal mungkin. Namun sumber-sumber pendidikan itu biasanya secara langsung ditangani oleh guru-guru dalam usaha mereka meningkatkan proses belajar mengajar masing-masing. Manajer hanya memberi petunjuk-petunjuk umum saja.
Perhatian manajer terpusat kepada kelompok manusia atau masyarakat lingkungannya. Sebab hanya masyarakatlah yang bisa diajak berbicara tentang hal-hal yang menyangkut pendidikan, termasuk menunjukkan binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati apa yang ada di sekitar mereka yang bisa dipakai bahan untuk mengajar. Anggota masyarakat inilah teman manajer yang bisa diajak merencanakan, mengkoordinasi dan bahkan dapat ikut mengontrol jalannya pendidikan.

A.    MENGAPA MANAJEMEN PENDIDIKAN MENANGANI MASYARAKAT
Pada beberapa uraian yang lampau dikatakan bahwa organisasi pendidikan adalah merupakan suatu sistem yang terbuka. Sebagai sistem terbuka, berarti lembaga pendidikan selalu mengadakan kontak hubungan dengan lingkungannya yang disebut sebagai suprasistem. Kontak hubungan ini dibutuhkan untuk menjaga agar sistem atau lembaga itu tidak mudah punah atau mati.
Hanya sistem terbuka yang memiliki negentropy, yaitu suatu usaha yang terus-menerus untuk menghalangi kemungkinan terjadinya entropy atau kepunahan (Immegart, 1972, h. 44). Ini berarti hidup atau matinya sistem (lembaga pendidikan) itu sebagian terbesar ditentukan oleh usaha lembaga itu sendiri. Negentropy itu melekat pada mekanisme kerjanya yang selalu menyangkutkan diri kepada dunia luar sebagai lingkungannya.
Sejalan dengan konsep di atas pemerintah menyerukan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua dan masyarakat. Seruan ini mengisyaratkan bahwa lembaga pendidikan hendaknya tidak menutup diri, melainkan selalu mengadakan kontak hubungan dengan dunia luar yaitu orang tua dan masyarakat sekitar sebagai teman penanggung jawab pendidikan. Dengan kedua kelompok inilah sekolah/perguruan tinggi bekerja sama mengatasi problem-problem pendidikan yang muncul dan memajukannya.
Dengan demikian tampaklah bahwa lembaga pendidikan itu bukanlah badan yang berdiri sendiri dalam membina pertumbuhan dan perkembangan putra-putra bangsa, melainkan ia merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat yang luas. Ia sebagai sistem terbuka, yang selalu mengadakan kerja sama dengan warga masyarakat lainnya, secara bersama-sama membangun di bidang pendidikan. Hal ini sangat mungkin dilakukan sebab masyarakat sangat sadar akan manfaat pendidikan sebagai modal utama dalam membangun dan memajukan bangsa termasuk masyarakat/keluarga itu sendiri. Mereka pada umumnya menaruh perhatian besar terhadap pendidikan putra-putranya

B.     HUBUNGAN LEMBAGA PENDIDIKAN DENGAN MASYARAKAT  
Ada hubungan saling memberi dan saling menerima antara lembaga pendidikan dengan masyarakat sekitarnya. Lembaga pendidikan merealisasi apa yang dicita-citakan oleh warga masyarakat tentang pengembangan putra-putra mereka. Hampir tidak ada orang tua siswa/mahasiswa yang mampu membina sendiri putra-putra mereka untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara total, integratif dan optimal seperti yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia. Itulah sebabnya lembaga-lembaga pendidikan mengambil alih tugas ini. Lembaga pendidikan memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada masyarakat.
Lembaga pendidikan sesungguhnya melaksanakan fungsi rangkap terhadap masyarakat yaitu memberi layanan dan sebagai agen pembaru atau penerang, yang oleh Stoop disebut sebagai fungsi layanan dan fungsi pemimpin (1981, h. 463 – 464). Dikatakan fungsi layanan karena ia melayani kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan fungsi pemimpin sebab ia memimpin masyarakatpemimpin sebab ia memimpin masyarakat disertai dengan penemuan-penemuannya untuk memajukan kehidupan masyarakat.
Itulah yang bisa diberikan oleh lembaga pendidikan kepada masyarakat. Sebaliknya masyarakat juga memberikan sesuatu yang tidak kalah pentingnya daripada pemberian lembaga pendidikan kepadanya. Pemberian itu ialah berupa tanggung jawab bersama. Masyarakat yang terbina dengan baik akan merasa bahwa lembaga pendidikan itu adalah juga miliknya yaitu milik bersama. Yang mereka rasa perlu dipelihara, dipertahankan dan dimajukan mirip seperti memelihara dan memajukan keluarga beserta tempat tinggalnya sendiri. Sebab tanpa ada lembaga pendidikan mereka yakin bahwa keluarga dan keturunan mereka mungkin tidak akan bisa hidup maju, enak dan bahagia.
Selanjutnya dengan mengadakan kontak hubungan dengan masyarakat memudahkan organisasi pendidikan itu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi lingkungannya. Lembaga pendidikan lebih mudah menempatkan dirinya di masyarakat dalam arti dapat diterima sebagai bagian dari milik warga masyarakat. Lembaga pendidikan dapat mengikuti arus dinamika masyarakat lingkungannya.
Secara terinci manfaat hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat adalah sebagai berikut (Made Pidarta, 1986, h. 361).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar